Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Falsafah dan Paradigma Keperawatan

 

Falsafah dan Paradigma Keperawatan

Pengertian falsafah keperawatan

Falsafah adalah keyakinan terhadap nilai-nilai yang menjadi pedoman untuk mencapai suatu tujuan dan dipakai sebagai pandangan hidup. Falsafah menjadi ciri utama pada suatu komunitas baik komunitas berskala besar maupun berskala kecil, salah satunya adalah komunitas profesi keperawatan. Falsafah keperawatan adalah kenyakinan perawat terhadap nilai-nilai keperawatan yang menjadi pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan,baik kepada individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Keyakinan terhadap nilai keperawatan harus menjadi pegangan setiap perawat, termasuk Saudara sekarang ini. Sebagai seorang perawat wajib bagi Saudara untuk memegang dan menanamkan nilai-nilai keperawatan dalam diri Saudara ketika bergaul dengan masyarakat atau pada saat Saudara memberikan pelayanan keperawatan pada pasien.

Falsafah keperawatan bukan suatu hal yang harus dihafal, melainkan sebuah artibut atau nilai yang melekat pada diri perawat. Dengan kata lain, falsafah keperawatan merupakan “jiwa” dari setiap perawat. Oleh karena itu, falsafah keperawatan harus menjadi pedoman bagi perawat dalam menjalankan pekerjaannya.

Sebagai seorang perawat tentunya dalam menjalankan profesi keperawatan Saudara harus senantiasa menggunakan nilai-nilai keperawatan dalam melayani pasien. Pada aspek lain bahwa falsafah keperawatan dapat digunakan untuk mengkaji penyebab dan hukum-hukum yang mendasari realitas. Dalam falsafah keperawatan pasien di pandang sebagai mahluk holistik, yang harus dipenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan biologis, psikolois, sosial dan spiritual yang diberikan secara komprehensif. Pelayanan keperawatan senantiasa memperhatikan aspek kemanusiaan setiap pasien berhak mendapatkan perawatan tanpa ada perbedaan. Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan keperawatan menjadikan pasien sebagai mitra yang aktif, dalam keadaan sehat dan sakit terutama berfokus kepada respons mereka terhadap situasi.

Falsafah keperawatan menurut Roy (Mc Quiston, 1995) terbagi menjadi delapan elemen, empat berdasarkan falsafah prinsip humanisme dan empat berdasarkan prinsip falsafah veritivity. Falsafah humanisme/ kemanusiaan “mengenali manusia dan sisi subyektif manusia dan pengalamannya sebagai pusat rasa ingin tahu dan rasa menghargai”. Sehingga ia berpendapat bahwa seorang individu: 

  1. Saling berbagi dalam kemampuan untuk berpikir kreatif yang digunakan untuk mengetahui masalah yang dihadapi dalam mencari solusi. 
  2. Bertingkah laku untuk mencapai tujuan tertentu, bukan sekedar memenuhi hukum aksi-reaksi. 
  3. Memiliki holism intrinsic. 
  4. Berjuang untuk mempertahankan integritas dan memahami kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan orang lain veritivity.

Pengertian paradigma keperawatan 

Secara umum paradigama diartikan cara pandang, melihat, memikirkan, memaknai, menyikapi, serta memilih tindakan atas masalah atau fenomena yang ada. Paradigma dapat pula diartikan suatu diagram atau kerangka berpikir seseorang dalam menjelaskan suatu masalah atau fenomena dari suatu kejadian. Paradigma keperawatan adalah cara pandangan secara global yang dianut atau dipakai oleh mayoritas kelompok keperawatan atau menghubungkan berbagai teori yang membentuk suatu susunan yang mengatur hubungan diantara teori guna mengembangkan model konseptual dan teori-teori keperawatan sebagai kerangka kerja keperawatan. 

Beberapa ahli di bidang keperawatan mempunyai pendapat sendiri tentang arti dari paradigma keperawatan. Menurut Gaffar (1997), paradigma keperawatan adalah cara pandang yang mendasar atau cara kita melihat, memikirkan, memberi makna, menyikapi dan memilih tindakan terhadap berbagai fenomena yang ada dalam keperawatan. Dengan demikian, paradigma keperawatan berfungsi sebagai acuan atau dasar dalam melaksanakan praktik keperawatan.

Komponen paradigma keperawatan

Paradigma keperawatan terbentuk atas empat unsur, yaitu: manusia atau klien, lingkungan, kesehatan dan keperawatan. Kempat komponen ini saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lainnya yaitu: 

  1. Manusia atau penerimaan asuhan keperawatan (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat);
  2. Lingkungan (keadaan internal dan eksternal yang mempengaruhi klien);
  3. Kesehatan;
  4. Keperawatan (karakteristik dan tindakan dari asuhan keperawatan).

Hubungan kempat komponen tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut: 

a. Manusia 

Manusia dalam konsep paradigma keperawatan, dipandang sebagai individu yang utuh dan kompleks (makhluk holistik) yang terdiri dari bio-psiko-sosio- spiritual. Manusia merupakan unsur kedua dalam paradigma keperawatan. Manusia bertindak atau berperilaku secara verbal dan nonverbal, kadang-kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong dirinya dalam memenuhi kebutuhannya, dan manusia harus dipandang sebagai individu yang utuh dan kompleks (makhluk holistik) yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Abraham Maslow (1908-1970), merumuskan suatu teori tentang kebutuhan dasar manusia yang dapat digunakan oleh perawat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan asuhan keperawatan kepada klien. 

b. Sehat-sakit 

Pengertian sehat pada setiap individu berbeda-beda dan setiap orang mempunyai konsep yang tergantung dari sudut pandang dan latar belakang dan tingkat sosial seseorang dalam mengartikan sehat. Untuk memudahkan dan memahami tentang konsep sehat sangat diperlukan memberikan arti sehat secara luas yang sering dinamai sebagai paradigma sehat. 

Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola pikir seseorang tentang kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral, yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan terhadap penyakit agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan yang sakit. Secara umum kebanyakan individu dalam masyarakat beranggapan bahwa sehat adalah tidak sakit, maksudnya apabila tidak ada gejala penyakit yang terasa berarti tubuh kita sehat. 

Padahal pendapat yang demikian itu kurang tepat, karena ada beberapa penyakit tidak menimbulkan gejala terlebih dahulu, setelah penyakit cukup parah baru muncul atau menimbulkan gejala, seperti penyakit kanker yang diketahui setelah stadium lanjut.

c. Lingkungan 

Lingkungan adalah unsur keempat dariparadigm keperawatan. Lingkungan dalam paradigma keperawatan diartikan sebagai agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan klien. Lingkungan secara umum dapat dibedakan menjadi dua lingkungan fisik dan lingkungan non-fisik. 

Lingkungan fisik, yaitu lingkungan alamiah yang terdapat di sekitar manusia. Lingkungan fisik ini meliputi banyak hal seperti cuaca, musim, keadaan geografis, struktur geologis, dan lain-lain.

Lingkungan non-fisik, yaitu lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi antar manusia. Lingkungan non-fisik ini meliputi sosial-budaya, norma, nilai, adat istiadat, dan lain-lain. 

d. Keperawatan 

Keperawatan merupakan suatu seni dan ilmu yang mencakup berbagai konsep dan keterampilan yang terkait dengan berbagai disiplin ilmu. Ilmu keperawatan digunakan untuk membantu individu dengan proses yang unik, yang ditampilkan dengan melakukan kegiatan yang bertujuan untuk penyembuhan penyakit, membantu klien mendapatkan kembali kemandirian, bahkan membantu klien mendapatkan kematian yang damai. 

Keperawatan merupakan unsur dasar paradigma keperawatan, yang diberikan dalam bentuk layanan kesehatan profesional. Sesuai dengan hasil kesepakatan lokakarya keperawatan nasional tentang konsep keperawatan yaitu, Keperawatan merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan. 

Layanan ini berbentuk layanan bio-psiko-sosio- spiritual komprehensif yang ditujukan bagi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan masyarakat (Lokakarya Keperawatan Nasional,1983). 

Layanan keperawatan sebagai bagian integral dari layanan kesehatan memiliki kedudukan yang sama dengan profesi kesehatan lain (misal dokter) yaitu sebagai mitra. Keadaan ini didukung dengan keilmuan keperawatan yang memiliki batang tubuh keilmuan tersendiri, selain itu keperawatan juga memiliki bentuk pelayanan yang khas dan unik.

Tugas dan fungsi perawat secara umum memberikan bantuan kepada pasien (dari level individu, keluarga hinga masyarakat), baik dalam kondisi sakit maupun sehat, guna mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui layanan keperawatan. 

Pemberian layanan ini harus didasari dengan keahlian dalam memberikan asuhan keperawatan, yang didukung olehpenguasaan terhadap pengetahuan, pengalaman klinik, menginterpretasikan situasi klinik dalam membuat keputusan yang kompleks. 

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI, Nomor: 647/Menkes/ SK/IV/2000 tentang Registrasi dan Praktik Keperawatan, yang kemudian diperbaharui dengan Kepmenkes RI No.1239/SK/XI/2001, dijelaskan bahwa perawat adalah orang yang telah lulus dari pendidikan perawat, baik di dalam maupun di luar negeri, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

Selanjutnya perawat adalah suatu profesi yang mandiri yang mempunyai hak untuk memberikan layanan keperawatan secara mandiri, dan bukan sebagai profesi pembantu dokter.

Posting Komentar untuk "Falsafah dan Paradigma Keperawatan"